KELOMPOK SADAR HIPERTENSI (MPOK SARTI) DAN POS HIPERTENSI, SEBUAH INOVASI MENJAWAB TANTANGAN KURAN

Berdasarkan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo tahun 2015, jumlah kasus hipertensi primer di Kabupaten Kulon Progo tahun 2014 adalah 48.929 kasus. Jumlah ini menduduki peringkat ke-2 dalam daftar 10 besar penyakit yang ada di Kulon Progo. Kemudian, berdasarkan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo tahun 2016, jumlah kasus hipertensi primer di Kabupaten Kulon Progo tahun 2015 adalah 51.404 kasus. Jumlah ini masih tetap menduduki peringkat ke-2 dalam daftar 10 besar penyakit. Prevalensi kasus hipertensi primer di Puskesmas Kokap I juga cukup tinggi. Jumlah kasus hipertensi di Puskesmas Kokap I pada tahun 2022 ada 1365 kasus, yang mendapat pelayanan sesuai standar sejumlah 36,7%. Beberapa bulan terakhir ini, hipertensi primer menempati urutan pertama dalam daftar 10 besar penyakit di Puskesmas Kokap I.

Pada tahun 2020 dilakukan inovasi kegiatan bernama MPOK Sarti (kelompok sadar hipertensi). Mpok Sarti ini dilaksanakan dengan pendampingan pada penderita hipertensi oleh kader. Pendampingan ini berupa kepatuhan minum obat dan melakukan pengobatan rutin. Inovasi ini dirasa belum dapat meningkatkan cakupan pengobatan hipertensi sesuai standar karena penderita hipertensi yang kebanyakn lansia tidak mau untuk dirujuk mengingat sulitnya akses transportasi dan tidak ada kelg yang mengantar berobat ke puskesmas. Capaian penderita hipertensi berobat sesuai standar pada tahun 2020 mencapai 24,2 %, sehingga pada tahun 2021 dilakukan pengembangan kegiatan berupa pendampingan kader dan pengambilan obat anti hipertensi oleh kader. Akan tetapi jumlah kader dirasa tidak mencukupi sehingga capaian kegiatan pada tahun 2021 sebesar 27, 1 %

Berdasarkan evaluasi kegiatan tahun 2021, tahun 2022 dilakukan pengembangan  kegiatan berupa pendampingan kader dan pembentukan Pos Hipertensi. Hal ini dilakukan melalui berbagai tahapan kegiatan. Pada bulan Mei 2022 dilakukan desiminasi hasil kegiatan pengobatan hipertensi sesuai dengan standar, di mana salah  satu bahasan dalam desiminasi tersebut adalah masih adanya penderita hipertensi yang belum berobat sesuai dengan standar karena kesulitan akses untuk melakukan pengobatan secara rutin. Pada pertemuan ini didapat kesepakatan untuk pembentukan Pos Hipertensi, sebagai upaya mendekatkan jangkauan pelayanan bagi penderita hipertensi. Capaian penderita hipertensi sesuai dengan standar pada tahun 2022 tercapai sebesar  36,7%. Kegiatan Mpok Sarti dan Pos Hipertensi sampai saat ini masih terus dilakukan meskipun belum semua pedukuhan memiliki Pos Hipertensi.

Pada awal pembentukan Pos Hipertensi baru dapat dilaksanakan di 5 tempat yang sasaran kegaiatnnya meliputi penderita hipertensi di sekitar pedukuhan tersebut. 5 Pos hipertensi ini adalah Sangon I, Balai Kalurahan Kalirejo, Ngulakan, Banjaran, dan Tangkisan I. Pada tahun 2022 dibentuk Pos Hipertensi tambahan yaitu di Pedukuhan Tangkisan II mengingat banyaknya sasaran di pedukuhan tersebut, sehingga jumlah Pos Hipertensi pada tahun 2023 sebanyak 6 Pos.

Selain kegiatan Pos Hipertensi, sampai saat ini masih tetap dilakukan kegiatan MPOK Sarti berupa pendampingan oleh kader kepada penderita hipertensi dengan risiko tinggi dengan bedrest/ keterbatasan mobilisasi, kesulitan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan maupun ke Pos Hipertensi akibat demografi pegunungan. Kader melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin 1 bulan sekali untuk kemudian dilaporkan ke programer Penyakit Tidak menular (PTM). Pengobatan yang diberikan berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah oleh kader tersebut